Saturday, 27 June 2015

NAGA LAUT PULAU KOH


Bosan dan jenuh, mungkin dua kata itulah yang saat ini terlintas dalam pikiranku. Terjebak dalam rutinitas pekerjaan bisa saja menjadi sebabnya. Atau mungkin juga ada sebab lain, mengingat kondisiku yang baru sekitar lima bulan berada di kantor ini. Ekspresi murungku terbaca oleh lingkungan sekitar, menimbulkan banyak pertanyaan dari rekan kerjaku.
“Dan, kenapa wajahmu suram sekali akhir-akhir ini? Kayak baru diputusin aja,” tanya Nugraha.
“Diputusin? Bagaimana bisa? Dia kan jones,” Alam spontan menyahut.
“Hahahaha…..” pecahlah gelak tawa seisi ruangan sebelum aku sempat membela diri.
“Nggak bro, mungkin aku lelah,” ujarku dengan tampang memelas, “mungkin dalam waktu dekat, aku akan mengambil cuti beberapa hari,” aku melanjutkan penjelasan seraya berlalu menuju toilet.
Dan, itu nama panggilanku. Saat ini usiaku nyaris 21 tahun. Aku bekerja di daerah Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, mengurusi kegiatan ekspor dan impor. Aku ditempatkan di bagian pelayanan administrasi dokumen di kantor. Ribuan tumpukan kertas berlalu-lalang dihadapanku setiap harinya. Wajar apabila rasa bosan itu menyerangku hingga membuatku seperti ini. Di dalam toilet, aku merenungi perkataanku. Vakansi mungkin bisa membantu meringankan beban psikis ini.
Sepulang dari kantor, aku mencari informasi-informasi yang menarik. Perhatianku tertuju pada artikel mengenai sebuah kompetisi yang berhadiah paket liburan gratis untuk dua orang. Belum dijelaskan secara rinci lokasi liburannya. Tanpa pikir panjang, aku pun mendaftar dan mengikuti kompetisi tersebut. Kompetisi ini tergolong tidak ribet ketentuannya. Para peserta diharuskan membuat sebuah cerita fiktif imajinatif mengenai sebuah vakansi berbau petualangan yang menakjubkan.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Setelah dua pekan berlalu, aku membuka halaman pemenang kompetisi pada web tersebut, dan ternyata…. Namaku! Namaku terpampang jelas di sana sebagai pemenang. Kembali bingung datang menghampiri. Bersama siapa aku akan memenuhi paket liburan ini sementara teman-temanku tidak ada yang libur? Terkhayal wajah indah seseorang berseri dalam pikiranku.
Namanya Tara, teman wanitaku. Ia sedikit lebih tua dariku. Sekitar enam tahun lebih tua. Namun wajahnya seakan menipu usianya. Ia manis, terlihat masih 18 tahun. Aku ingin mengajaknya. Perlu diketahui bahwa kantor Tara letaknya bersebelahan dengan kantorku. Sejak pertemuan kami di Ibukota beberapa bulan yang lalu, kami sering berkomunikasi satu sama lain. Namun karena suatu hal, entah kenapa hubungan itu sekarang tinggal cerita. Aku meneleponnya, mencoba mengajaknya, dengan harapan ia mau menemani. Dengan sopan aku menyapanya dengan salam dan mengutarakan maksudku.
 “Mbak, nanti ada waktu nggak? Ada yang ingin diomongin langsung nih,” tanyaku.
“Ngomong apa? Kenapa nggak sekarang? Jangan ngomong yang aneh-aneh ya,” ia meragukanku.
“Janji mbak, aku nggak bakal aneh-aneh deh,” aku meyakinkannya.
“Hmm…, nanti sepulang kantor aja ya ketemu,” pesannya.
“Ok, Mbak… Makasih...,” aku terpana dengan merdu suaranya.
Sepulang kantor kami pun bertemu. Aku menjelaskan panjang lebar mengenai kompetisi dan hadiahnya. Tak lupa pula, aku menjelaskan bahwa sebenarnya tingkat kejenuhanku sudah di ambang batas. Tanpa diprediksi ternyata ia sependapat denganku. Ia juga ingin mengajukan cuti.
Hari yang dijadwalkan tiba. Segala persiapan juga telah matang. Menjelang keberangkatan, barulah informasi rinci mengenai lokasi liburannya diumumkan. Lokasinya adalah… Kepulauan Raja Ampat! Surga Bahari Indonesia Timur julukannya. Berdasarkan literatur yang diberikan, dapat kubayangkan keindahan alam di sana.
Langkah awal untuk menuju ke sana adalah melalui jalur penerbangan ke bandara di Kota Sorong, yaitu Bandara Domine Eduard Osok (DEO). Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Perikanan Sorong. Dari pelabuhan kami menggunakan kapal rakyat menuju Waisai yang merupakan ibukota dari Kabupaten Raja Ampat. Kunikmati perjalanan ini, walaupun aku dan Tara tak banyak bicara satu sama lain, cukuplah alam yang berbisik pada kami.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Hari pertama kami habiskan di Waisai. Kami mengunjungi pasar ikan, kios souvenir, pasar kuliner dan berjalan di sekitar kota. Ini adalah pengalaman kultural yang akan membuatku merasa bahwa aku benar-benar telah mengunjungi Papua. Setelah matahari terbenam, kami beristirahat di homestay untuk petualangan esok hari.
Esok harinya berbagai lokasi kami jelajahi. Pulau pertama adalah Pulau Gam. Sunrise berselimut hutan tropis yang lebat dengan semak belukar terkesan sangat hijau. Variasi bentuk vegetasi terlihat seperti jejeran mahkota dari kejauhan. Berdecak kagum saya melihatnya. Kami beralih ke tujuan selanjutnya yaitu Pulau Waigeo.


Ada sebuah teluk yang memisahkan Pulau Gam dan Waigeo, yaitu teluk Kabui. Teluk kabui merupakan teluk yang memiliki keunikan tersendiri. Teluk Kabui berhiaskan pulau-pulau karang yang tersusun rapi menjadi sebuah labirin raksasa. Batuan karang ini secara ilmiah biasa disebut Karst. Pantulan hijaunya pepohonan membias di antara Karst. Menciptakan dimensi teduh di perairan ini. Kami terbawa masuk lebih dalam lagi menuju ikon khas paling terkenal di Teluk Kabui. Batu Pinsil sebutan komersilnya, sebuah gugusan batu karang menyembul di permukaan air.
Tempat menarik lainnya adalah sebuah gua di kawasan teluk yang hanya terlihat pada waktu air surut. Gua ini berisi batuan stalakmit dan stalaktit yang menganga pada dinding dan langit-langitnya. Konon, gua ini dahulunya adalah sarang Hantu Laut. Hantu laut yang dimaksud adalah seekor gurita raksasa yang sekarang sudah jarang terlihat di tempat itu. Air Teluk Kabui juga sangat bening. Hal ini membuat kami dapat menyaksikan koral dan warna-warni ekosistem laut dari atas kapal. Kami juga menyaksikan beberapa ekor ikan lumba-lumba yang berloncatan dengan harmonis di tengah perairan bening Teluk Kabui.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Akhirnya setelah menikmati Teluk Kabui, kami pun sampai di Pulau Waigeo. Teropong benar-benar menjadi alat vital di sini. Cendrawasih Sang Burung Surga menjadi objek utama pengamatan kami. Burung itu seakan menari ketika kami mengamatinya. Sungguh sebuah mahakarya tarian burung nan indah. Sangat tepat apabila burung cenderawasih disebut-sebut sebagai Burung Surga. Warna bulu cenderawasih yang sangat mencolok merupakan kombinasi beberapa warna seperti hitam, cokelat, kuning, putih, biru, merah, hijau, dan ungu. Burung ini semakin anggun dengan keberadaan bulu unik yang tumbuh dari paruh, sayap, atau kepalanya.
Waktu semakin berlalu, kami menuju ke tujuan akhir trip ini yaitu Pulau Misool. Sesuai dengan rencana awal, kami akan bermalam di homestay yang ada di sana. Esok harinya kami dijadwalkan akan segera kembali ke Surabaya melalui penerbangan dari Sorong. Kami tiba di Pulau Misool pada siang hari. Kami memutuskan untuk menjelajah lagi, kali ini penjelajahan di lakukan di sekitar homestay. Di sini kami menemukan sebuah situs bersejarah pada tebing yang mulai tenggelam. Situs ini menampilkan hasil goresan tangan yang dicat dengan warrna merah koral yang indah. Konten dari situs ini mayoritas bergambar seperti fauna laut seperti tuna, hiu, lumba-lumba, dan beberapa ikan besar lainnya. Terdapat juga kombinasi garis dan warna yang menyimbolkan kesuburan atau kehamilan.
Namun dari semua gambar tersebut ada sebuah gambar yang menarik perhatianku. Pada tebing itu tergambar pulau-pulau yang posisinya mirip seperti Kepulauan Raja Ampat. Kemudian, pada suatu pulau digambarkan ada enam lingkaran oval seperti telur. Pulau itu kemudian dikelilingi sosok seperti ular yang besar. Rasa ingin tahu membuatku bertanya pada penduduk di sekitar homestay. Penduduk di sekitar homestay mayoritas adalah pendatang dari luar negeri. Dialek mereka menggunakan Bahasa Indonesia yang baku sekali. Dengan nada sedikit aneh, ada sepenggal kisah yang aku dengar.
Dahulu kala di Teluk Kabui Kampung Wawiyai ada sepasang suami istri perambah hutan pergi ke hutan untuk mencari makanan. Kemudian, tibalah mereka di tepi Sungai Waikeo. mereka menemukan enam butir telur naga. Telur-telur tersebut disimpan dalam noken dan dibawa pulang, sesampainya di rumah telur-telur tersebut disimpan dalam kamar. Ketika malam hari mereka melihat di dalam kamar ternyata lima butir telur telah menetas berwujud empat anak laki-laki dan satu anak perempuan, semuanya berpakaian halus yang menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan raja. Masing-masing anak bernama War, Betani, Dohar, Mohamad dan Pintolee. Keempat anak laki-laki ini kemudian menjadi raja. War menjadi raja di Waigeo. Betani menjadi raja di Salawati. Dohar menjadi raja di Lilinta (Misool), dan Mohamad menjadi Raja di Waigama (Batanta).


Suatu ketika anak perempuan yang bernama Pintolee diketahui sedang hamil dan oleh kakak-kakaknya ia diletakkan dalam kerang besar kemudian dihanyutkan hingga terdampar di Pulau Numfor. Satu telur lagi tidak menetas. Telur ini menjadi batu yang diberi nama Kapatnai dan diperlakukan sebagai raja. Kemudian, telur ini disemayamkan di ruangan lengkap dengan dua batu yang berfungsi sebagai pengawal di kanan-kiri pintu masuk. Setiap tahunnya, batu ini dimandikan dan air mandinya disiramkan kepada masyarakat sebagai baptisan untuk Suku Kawe. Oleh karena masyarakat sangat menghormati telur ini, maka dibangunlah sebuah rumah ditepi Sungai Waikeo sebagai tempat tinggalnya dan hingga kini masih menjadi objek pemujaan masyarakat.
Siang pun berganti sore. Aku menemani Tara berjalan di bibir pantai. “Ng.. Dim, kita snorkeling yuk,” ujarnya dengan wajah polos. “Snorkeling? Jam segini?” aku meragukan jalan pikirannya. Namun entah kenapa aku tak bisa menolaknya. Ada sebuah perasaan di hati ini yang tidak bisa menolaknya. Entah apa itu…. Tak lama kemudian, aku kembali dengan peralatan lengkap. Tak lupa pula aku membawa sebuah tas kecil kedap air berisi bermacam-macam tools. Persiapan untuk menghadapi situasi terburuk. Aku merasakan sesuatu yang membuatku gelisah. Tapi aku tak menghiraukannya.


Acara snorkeling sore hari pun dimulai. Untuk mencapai lokasi yang terbaik, kami menggunakan perahu. Cukup mengerikan juga melihat air laut yang mulai pasang. Nelayan yang membawa perahu menyarankan agar kami kembali dalam waktu 30 menit, kami mengiyakan. Perlahan-lahan kami bergerak menjauhi perahu mencari spot yang tepat untuk melihat keindahan bawah laut. Meskipun sudah memasuki waktu sore, namun intensitas cahaya matahari masih menembus perairan bening ini. Kami pun terbawa akan keindahan biodiversitas surga bawah laut ini.
Sudah lebih satu jam kami bersnorkeling ria. Aku mengisyaratkan Tara untuk kembali. Tapi apa yang terjadi? Datanglah sebuah gelombang tinggi yang tidak kami duga! Tanpa kami sadari air laut pasang dengan sangat cepat! Gelombang tinggi itu menghempaskan Tara… aku mencoba meraih tangannya! Sreett… dengan sigap aku berhasil menggenggam tangannya. Namun, bukannya selamat, aku pun ikut terbawa oleh gelombang ini. Hempasan gelombang yang kuat ini membuat masker kami berdua terlepas. Dengan serangan air laut yang bertubi-tubi, kami berdua pun tumbang… kami tak sadarkan diri… “Tara…,” sekilas aku melihat siluet Tara sebelum pandanganku menjadi gelap….

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

“Tara!” aku terbangun karena mimpi burukku. Kulihat Tara ada disampingku, ia masih tak sadarkan diri. Mungkin cukup lama kami telah terdampar di sini. Pakaian yang kami kenakan sudah mulai mongering. “Di mana ini ya?” kepalaku masih terasa berat setelah kejadian yang tadi kami alami. Gelombang laut membawa kami ke pesisir sebuah pulau. Matahari yang telah terlelap membuatku sulit mengenali dengan pasti posisi kami saat ini. Hanya cahaya bulan dan taburan bintang di langit yang menerangi kami. Tapi, untunglah tas kecilku ini tidak ikut terlepas. Barang-barang yang kubawa ini akan menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi kami dalam bertahan hidup. Beberapa menit kemudian, Tara mulai siuman.
“Kita terdampar, Mbak…,” aku berkata lirih. “Terdampar?” ia kebingungan.
“Iya,” aku mengeluarkan peta dari tas kecilku, “kemungkinan kita berada di sini, Pulau Koh,” aku menunjuk sebuah pulau. “Kok kamu bisa yakin, Dim?” tanyanya heran.
“Ng.. begini.. dengan melihat arah gelombang dan membandingkannya dengan peta. Kita berangkat dari Pulau Misool, kemudian kita mengarah sedikit ke tengah, kita melewati Pulau Nusela dan mengarah ke Pulau Fam. Perahu kita berhenti di antara kedua pulau ini, di sinilah lokasi kita snorkeling dan terseret gelombang. Dengan melihat gelombang yang ada di depan pantai kita saat ini, berarti arus sedang bergerak dari Australia. Kurasa tepat, karena pada periode seperti sekarang yaitu Juni, Juli, Agustus kita mengalami Angin Muson Timur. Berarti kemungkinan kita berada di sekitar perairan tidak jauh dari Waisai.” aku memaparkan analisisku.
“Oh… benar juga, terus bagaimana kita sekarang? Pulau Koh ini kan tidak berpenghuni, hari sudah gelap, dan gelombang pun semakin tinggi…,” suaranya semakin lirih.
“Kurasa kita terpaksa bermalam di sini. Nah, berdasarkan informasi yang tercantum di literatur, ada shelter sederhana di bagian timur di pulau ini. Tempat itu biasanya dijadikan tempat singgah untuk snorkeling. Kita coba ke sana aja, kita telusuri pulau ini. Posisi kita saat ini mungkin di bagian barat.”
“Yahh mau gimana lagi, tapi kamu yang jalan duluan yah. Cowok maju duluan, kalau ada apa-apa kena duluan,” ujarnya dengan sedikit bumbu canda.
“Iyaa iyaa, kan siapa tahu ada yang aneh mengganggu dari belakang hehehe… oh iya, kita tidak tahu akan seberapa jauh perjalanan ini. Ada baiknya kita mengisi perut kita dulu,” aku berusul.
“Bagaimana caranya mengisi perut?” Tara kubuat semakin bingung.
“Ini, kita pakai ini,” aku menunjukkan kail dan umpan yang kubawa dalam botol.
“Maksudmu memancing? Tak terpikirkan kalau kamu membawa benda semacam itu di tasmu.”
“Yah, sebenarnya aku juga bingung sih haha. Tapi lumayan kan, kita bisa mendapatkan ikan dengan menggunakan ini. Di sini alam masih sangat terjaga, pastinya akan banyak ikannya,” aku melemparkan kailku yang telah diberi umpan.
Benar saja, dalam jangka waktu satu jam ikan yang tertangkap pun cukup banyak, seperti: ikan putih, ikan selar, ikan tongkol, ikan kuwe, ikan bawal, ikan kobia dan ikan cucut. Kami membakarnya di perapian. Kami menikmati hidangan ala kadarnya ini. Ikan bakar dihiasi deru ombak, suara hewan nokturnal, taburan bintang dan bias cahaya bulan di langit malam setidaknya bisa menghangatkan suasana. Ditambah lagi obrolan yang terjalin di antara kami, membuat kami berdua semakin dekat.


Dimulailah eksplorasi malam hari yang mendebarkan. Selama berjalan di pesisir berbekal dua buah senter, jarak pandang yang luas lumayan bisa menuntun ke mana arah kami berjalan. Setelah berjalan sekitar satu jam, kami dipaksa masuk ke bagian dalam pulau dikarenakan air laut semakin meninggi. Terlihat dari kejauhan beberapa bagian pesisir mulai terendam air.
Penelusuran hutan kami lakukan secara perlahan dan penuh kewaspadaan. Hanya suara hewan hutan menemani langkah kami. Hutan menyimpan misteri tersendiri. Tak akan ada yang tahu apa yang menunggu kita dalam kegelapan. Perlahan tapi pasti kami terus berjalan hingga masuk ke jantung hutan ini. Langkah kami terhenti pada jalan yang bercabang dua. Kedua jalan ini mengarah ke sebuah gua.
“Terserah kamu aja, Dim,” suara Tara mulai melepas kebingunganku.
“Hmm... aku pilih jalan yang ke kiri. Mbak mau ikut atau tetap di sini?” aku sedikit menggodanya.
“Kamu tega ninggalin aku sendirian?” ia menyindir.
“Tega, hehehe… Ayo sini ikut!” aku menggenggam tangannya.
Bersama-sama kami menembus kegelapan gua. Sampailah kami pada ujung gua ini. Sempat terpikirkan bahwa gua ini buntu. Namun setelah diperhatikan lebih jelas, ada sebuah tanda pada sudut gua. Ada gambar seperti yang kami temukan di situs Pulau Misool! Gambar seekor naga beserta enam titik telur naga! Aku memukul dinding gua menggunakan batu. Terdengar ada suara bergema di balik dinding sudut ini! Gua ini belum berakhir!


“Kayaknya gua ini masih ada kelanjutannya, Mbak,” aku berkata seraya berpikir bagaimana caranya membuka koridor ini, “mungkin harus didorong nih.”
“Hah? Jangan bercanda, Dim” ia setengah percaya. Namun setelah melihat kesungguhanku. Ia pun mengulurkan tangannya untukku. “Satu, dua, tigaaaaaa…” Bruakk!! Dinding runtuh!
Tak disangka, ternyata dinding ini sudah sedemikian rapuhnya. Setelah debu dari runtuhan dinding hilang. Kami mengarahkan pandangan ke arah lubang itu. Kami terbelalak! Ruangan di balik dinding ini sangat berbeda dengan ruangan di sebaliknya. Bias cahaya bulan dan kunang-kunang beserta serangga yang lain menerangi seisi ruangan ini dengan jelas. Sebuah ruangan yang memiliki kolam air laut di bagian tengahnya, dikelilingi oleh hamparan air laut yang dalam, bagaikan sebuah pulau. Aku menyebutnya sebuah pulau di dalam pulau.
Langkah kami harus terus melaju. Untuk dapat sampai ke tengah ruangan, kami harus menyeberangi air laut. Bagaimanakah caranya kami menyeberang? Unik sekali, tak terbayangkan menemukan hal seperti ini sebelumnya. Terdapat bongkahan-bongkahan batu besar yang mengapung di atas permukaan air laut yang mengelilingi pulau berkolam ini! Fenomena alam yang tergolong anomali. Bagaimana mungkin massa jenis batu besar tersebut lebih kecil daripada massa jenis air laut sehingga menyebabkan efek mengapung ketika air laut sedang pasang tinggi? Namun tidak ada waktu untuk berpikir lebih kompleks, kami harus segera menyeberang sebelum air surut dan menyebabkan batu-batu ini kembali ke dasar perairan.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Sesampainya di tengah ruangan, kami kembali dikejutkan dengan apa yang kami temukan. Di pinggiran kolam kami melihat lima bongkahan batu besar yang bentuknya menyerupai telur raksasa yang telah menetas. “Telur naga…” gumamku. Terlihat juga ada bekas bahwa satu telur telah dipindahkan. Totalnya, semua ada enam telur! Kemudian, aku menyorot bagian dasar kolam. Rasa takjub berpadu takut menyelimutiku. Ada sesuatu di dalam sini, di balik ikan-ikan kecil itu.
“Mungkin legenda itu benar ya Mbak…,” ujarku. “Legenda apa, Dim?” tanya Tara.
“Legenda terbentuknya Kepulauan Raja Ampat, nanti aku ceritain deh” aku tersenyum, “oh iya, di sana ada bongkahan batu besar terapung yang mengarah ke sudut lain ruangan ini, ayo kita ke sana,” aku mengisyaratkan untuk bergerak sebelum hal yang aku takutkan terjadi.
Sesampainya di sudut ini, kami menemukan sebuah lubang pada langit-langit. Kami menumpuk bebatuan agar bisa memanjat ke sana. Ternyata lubang ini membimbing kami ke awal cabang gua yang mula-mula mengarahkan kami kepada ruangan menakjubkan itu. Kami pun mengambil jalan ke kanan kali ini. Setelah berjalan cukup lama, kami pun berhasil keluar dari hutan melalui gua ini. Posisi kami sekarang berada di pesisir. Tampak dari kejauhan ada sebuah shelter di pinggir laut. Kami menghela nafas lega. Kami memutuskan untuk beristirahat di shelter hingga pagi menjelang. Perairan sekitar Pulau Koh tergolong sangat alami. Sasaran empuk bagi pecinta snorkeling dan nelayan.
Aku tetap belum bisa memejamkan mataku. Tara tertidur pulas pada sofa bambu yang ada di shelter, sedangkan aku berada di bibir luar shelter, menatap laut dan bintang di langit, memikirkan apa yang tadi kulihat di dalam kolam. Aku menoleh sedikit ke arah Tara. Posisi tidurnya yang sedikit melingkar menandakan bahwa ia sedang menahan hawa dingin. Kudekati dia, kuselimuti dia dengan jaket yang kutemukan di shelter. “Tidur posisi aneh begini masih aja kelihatan manis yah… Nih selimut, semoga bisa menghangatkanmu. Tara, aku sayang kamu…,”  perasaanku terucap pada malam ini.
Mentari pagi mulai menyambut. Kami bersiap-siap. Sebuah perahu nelayan terlihat di kejauhan. “Oooooooyyyyyy!!!!” Aku berteriak sambil memutar-mutarkan jaket, berharap nelayan tersebut menyadari bahwa kami ada di sini. Benar saja, nelayan ini kemudian memutarkan perahu ke arah kami. Singkat cerita, nelayan tersebut mengantarkan kami kembali ke Pulau Misool, rencana titik kepulangan kami. Petualangan ini memasuki babak akhir. Kami melakukan penerbangan kembali ke Surabaya.
Sesampainya di Surabaya, Tara bertanya sesuatu, “Dim, waktu aku tertidur kamu yang memberi aku selimut kan? Waktu itu kamu ngomong apa?” tanyanya.
“Hah? nggak ngomong apa-apa kok?”
“Jangan bohong, aku mendengarnya lho, apa perlu aku yang ngomong?”
“Ng… aku ngomong kalo mbak itu manis juga kalau sedang tidur.”
“Terus? Kalimat setelahnya?”
“Aku… aku…,” kata-kataku terhenti. “Apa? Ih cepet dong,” namun Tara kembali memaksaku.
“Aku sayang sama kamu! Udah?”
“Sayangnya seperti apa, Dim?”
“Ah nggak tau, susah dijelaskan.”
“Kalau sebatas teman atau saudara ya nggak apa-apa sih, kamu udah aku anggap sebagai adikku sendiri, Dim. Lagipula umur kita juga terpaut jauh. Lebih dari itu mungkin nggak bisa…”
“Iya, aku tahu…” bisikku. “Oh iya, Dim, katanya kamu mau cerita tentang legenda Raja Ampat?”
“Wah, maaf aku lupa.” Aku pun bercerita dengan lengkap.
“Terus hubungannya apa Dim dengan kolam yang kita temukan waktu itu?”
“Nah, Mbak nggak lihat dasar kolamnya sih. Jadi gini Mbak, pada dasar kolam itu samar-samar aku melihat tengkorak yang tak lazim. Bentuknya persis seperti kepala naga. Bisa jadi kolam tersebut adalah kuburan naga laut yang ada dalam legenda. Terus…,” aku menghela nafas sejenak, “terus aku melihat…. Ada gelembung udara keluar dari kolam itu, aku juga melihat seperti ada makhluk yang bergerak di dasar kolam. Kolam itu memang dangkal namun tampaknya dasar kolam itu terhubung langsung dengan laut. Jadi mungkin… masih ada naga lainnya di sana! Oleh karena itulah aku mengajak kita untuk segera bergerak, takutnya terjadi apa-apa yang tidak kita inginkan.”


“Kamu ini yaa… kenapa nggak ngomong dari kemarin ihhh,” Tara mencubitku dengan gemas.
“Kalau aku bilang, mungkin Mbak udah ngacir duluan kemarin hahaha….”

Perjalanan menakjubkan ini ditutup oleh canda dan tawa kami berdua. Surga Bahari Indonesia Timur benar-benar seperti surga. Keanekaragaman hayati ditambah dengan misteri yang belum terkuak benar-benar merefresh pikiran kami. Esok harinya kami sudah harus masuk kantor karena jatah cuti telah berakhir. Tidak akan tergantikan petualangan ini. Namun, ada satu hal yang membuatku jatuh. Jawaban Tara pada waktu aku mengatakan bahwa aku menyayanginya. Jujur aku ingin memilikinya. Mungkin… ini saatnya aku berhenti mengaguminya. Berhenti mengharapkan dia diam-diam. Berhenti menyukainya. Berhenti tersenyum ketika melihatnya. Berhenti dari apapun tentang dirinya. Iya, aku berhenti. Cukup sampai disini. 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas partisisapinya, gan!! Saya sangat berharap kerjasamanya yaitu anda menyampaikan sesuatu komen yang berbibit, bobot, bebet yang dapat membuat blog ini semakin maju.