Saturday, 29 October 2011

Jika Kami Bersama

            Sore ini hujan turun lagi. Hujan kali ini mengingatkan saya pada ia, seorang sahabat masa kecil yang berbahagia, namanya Jaed. Anaknya gemuk tapi sedikit kurus dan tinggi mendekati pendek. Sekilas ia nampak aneh, namun bila diperhatikan lebih teliti lagi, ternyata ia sangat tak karuan.
            Meskipun begitu, kehidupannya sangatlah berbeda. Ia hidup penuh perjuangan dan pengharapan. Ia dan orangtuanya, yaitu Bapak Fajarrudin dan Ibu Epiwati pergi ke Merasi pagi-pagi sekali, sebelum ia berangkat ke sekolah. Maklumlah, dia adalah seorang anak satu-satunya dari keluarga peternak ikan. Sebenarnya, rumahnya tak begitu jauh dari rumah saya, cukup dua kali naik angkot. Namun karena keterbatasan lahan, ia dan keluarganya pun membuka kolam di Merasi.
            Pekerjaannya ini tentu memakan waktu. Karena itulah ia sering terlambat dan menerima hadiah beberapa nasihat dari guru. Itu tak membuatnya gentar, dengan sabar ia dngarkan semua itu. Nasihat itu hanya ia camkan di hatinya yang paling dangkal.
            Dalam hal pelajaran, ia juga tak jelas seperti bentuk tubuhnya. Apabila guru menerangkan, ia juga ikut menjelaskan hal yang memusingkan di daerah sekitar medan magnet dari bangkunya. Jika ia diberi pertanyaan, maka ia akan menjawab dengan jawaban yang sama sekali tidak ada sangkut maupun pautnya.
            Begitu bel istirahat berbunyi, Jaed langsung melompat dengan penuh rasa girang. Ia sangat senang karena ia akan bertemu saya dan teman-teman terbaiknya yang berada di lain kelas. Mengapa ia sangat gembira? Semua bermula dari Jaed yang pada waktu itu terdaftar sebagai murid baru di sekolah saya. Ia selalu dijahili oleh kakak kelas karena bentuknya yang tak jelas. Sampai suatu ketika ia mendapat keisengan yang berlebihan. Ia sampai pingsan dan hanya berbalut daun pisang ketika kami menemukannya. Ia tak ingin bercerita apa yang dilakukan gerombolan kakak kelas berjuluk “Blok Timur dari Barat” tersebut pada kami. Kami akhirnya membantu membalaskan dendam kesumat atas pelecekan sedikit harga dirinya itu. Kami pun berhasil, walau dengan susah payah. Sejak kejadian itu, Jaed menjadi akrab dengan kami.
            Begitulah ceritanya, hingga akhirnya kami pun melantik Jaed menjadi pimpinan kami. Pada suatu pagi, Jaed mengajak kami untuk bertualang dengan berjalan kaki mengitari kota. Rutenya adalah jalan dari sekolah hingga ke rumah masing-masing anggota yang ikut bertualang. Karena pada waktu itu udara belum seperti saat ini, alias masih sejuk wal segar, kami pun menyanggupi permintaan tak berbobotnya itu.
            Perlahan namun pasti, kami terus melangkah. Satu-persatu anggota mulai berkurang lantaran telah mencapai alamat tujuan. Tersisa empat orang lagi yang masih bertahan. Jaed, Herianto, Imghon dan saya tentunya. Namun tiba-tiba terjadi hal yang berat untuk diinginkan terjadinya.
            “Awas Jaed!!!!” Imghon berseru.
            “Minggir Jaed!!” Herianto ikut-ikutan.
            “Lari Oy!!!” saya ikut-ikutan juga.
            Berooooooooookkk!! Jaed terserempet! Akhirnya kami mencari bala bantuan untuk membawa Jaed ke rumahnya, karena lukanya tidak begitu serius dan malah terlihat bercanda. Jaed tak sadarkan diri. Meski tidak parah mungkin ia syok.
            Sesampainya di rumah Jaed, kami disambut dengan kegemparan. Bapak Fajarrudin dan Ibu Epiwati ini dikenal sangat menyayangi anak semata wayangnya itu. Lami kami menunggu, Jaed tak juga sadarkan diri.
           
“Coy, memangnya apa yang menyerempet tadi?” tanya Imghon dengan wajah bingung.
            “Kalau tidak salah, orang memanggilnya becak” jawab Herianto dengan wajah sok tahu.
            “Ternyata becak berbahaya ya, buas” saya menambahkan dengan wajah kurang meyakinkan dan memelas.
            Lalu, hal yang terburuk pun terjadi. Nyawanya tidak dapat tertolong lagi. Tsunami tangis melanda rumah Jaed. Kini keluarga kecil ini harus merelakan keberangkatan salah satu anggota keluarganya yang sangat dicintai untuk menghadap-Nya, Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
            Itulah sedikit kisah mengenai Jaed, pimpinan kami di sekolah sekaligus anak peternak ikan yang sejati yang mati tidak sengaja karena terserempet becak. Ini membuktikan bahwa ajal tidak pandang bulu dan dengan cara apa ajal mendekat dan menyergap. Ajal telah merenggut Jaed dari kehidupannya bersama kami semua.
            Hujan pun reda. Terlihat wajah Jaed di balik awan di atas pelangi. Inilah mimpi yang sempurna yang ada dalam taman langit bersama bintang disurga. Setelah itu, mentari pun biaskan sinarnya. Langit pun punya rasa, rasa cinta tuk kita.
            “Semoga kau hidup nyaman dan tentram di sana Jaed….jangan lupa dengan ikan-ikanmu di sini!!” ujar saya setengah kesal karena melihat wajah bodohnya di balik awan.
            Hanya Allah SWT yang tahu apakah ia masih menjadi peternak ikan yang sejati di alam nun jauh di sana.

(nih sampel cerpen hasil karya saya gan, dimakan dan dinikmati yah....)

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas partisisapinya, gan!! Saya sangat berharap kerjasamanya yaitu anda menyampaikan sesuatu komen yang berbibit, bobot, bebet yang dapat membuat blog ini semakin maju.